Kamis, 22 Desember 2011

Artikel Bahasa Baku Indonesia


Oleh 
Hikmah
FUNGSI BAHASA BAKU INDONESIA
Abstrak

Kebijaksanaan bahasa dapat memilih dan menentukan sebuah bahasa dari sejumlah bahasa yang ada dalam suatu negara untuk di jadikan bahasa nasional atau bahasa resmi kenegaraan dari negara tersebut. Kemudian perencanaan bahasa dapat memilih dan menentukan sebuah ragam bahasa dari ragam-ragam yang ada pada bahasa yang sudah dipilih untuk menjadi ragam baku atau ragam standar bahasa tersebut.

Kata Kunci: bahasa baku, ragam bahasa, fungsi bahasa

Pendahuluan

Proses pemilihan satu ragam bahasa untuk dijadikan ragam bahasa resmi kenegaraan atau kedaerahan, serta usaha-usaha pembinaan dan pengembangannya,yang biasa dilakukan terus menerus tanpa henti, disebut pembakuan bahasa atau standarlisasi bahasa.

Berbicara tentang bahasa baku (lebih tepat disebut ragam bahasa baku) dan bahasa nonbaku, berarti kita membicarakan variasi dalam bahsa inggris variety bahasa, karena yang disebut bahasa baku itu adalah salah satu variasi bahasa (dari sekian banyak variasi) yang diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan di jadikan tolak ukur sebagai bahsa yang” baik dan benar” dalam komunikasi yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulisan.
Dalam hal kestatusan sering muncul pertanyaan apakah bahasa baku itu sama dengan bahasa nasional, bahsa persatuan, bahasa negara dan bahasa tinggi (yang ada pada masyarakat yang diglosik). Pertanyaan-pertanyaan yang wajar untuk untuk dinyatakan ini sebenarnya menampakan pencampuradukan konsep dari pihak bertanya. Penyebutan nama atau pemberian nama terhadap suatu bahasa menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa negara,dan juga bahasa tinggi adalah penamaan bahasa sebagai langue, sebagai kode secara utuh keseluruhan; padahal penamaan bahasa baku adalah penamaan terhadap salah satu ragam dari sejumlah ragam ragam yang ada dalam suatu bahasa. Oleh karena itulah, sejak awal sudah perlu dijelaskan bahwa penamaan yang lebih tepat adalah ragam bahasa baku atau bahasa ragam baku, dan bukan bahasa baku saja.
Jadi penamaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, atau bahasa persatuan adalah penamaan terhadap keseluruhan bahasa Indonesia sebagai sebuah langue dengan segala macam ragam dan variasinya. Sedangkan bahasa Indonesia baku hanyalah salah satu ragam dari sekian banyak ragam bahasa Indonesia yang ada, yang hanya digunakan dalam situasi resmi kenegaraan. Dalam hal ini yang digunakan dalam situasi resmi kenegaraan adalah memang hanya ragam baku inilah, dan tidak ragam yang lain.
Halim (1980) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat pemakaianya sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya, sedangkan ragam yang tidak baku adalah ragam yamg tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma bahasa baku. Dittmar(1976:8) menatakan bahwa bahasa baku adalah ragam dari ujaran dari satu masyarakat bahasa yang disahkan sebagai norma keharusan bagi pergaulan sosial atas kepentingan dari berbagai pihak yang dominan di dalam masyarakat itu. Hampir sejalan dengan dittmar, maka Hartmann dan stork(1972:218) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang secara sosial lebih digandrungi,seringkali lebih berdasarkan pada ujaran pada orang-orang yang berpendidikan di dalam dan di sekitar pusat kebudayaan dan atau politik suati mastarakat tutur. Sedangkan Pei dan Geynor(1954;203) mengatakan bahwa bahasa baku adalah  dialek suatu bahasa yang memiliki keistemewaan sastra dan budaya melebihi dialek-dialek lainnya, dan disepakati penutur dialek-dialek lainsebagai bentuk bahasa yang paling sempurna.



2.1  Fungsi Bahasa Baku
Selain fungsi penggunaannya untuk situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut Gravin dan Mathiot(1956:785-787) juga mempunyai fungsi lain yang bersifat sosial politik, yaitu:
  1. Fungsi pemersatu
Yang di maksud dengan fungsi pemersatu ( the unifying function) adalah kesanggupan bahasa baku untuk menghilangkan perbedaan variasi  dalam masyarakat, dan membuat terciptanya kesatuan masyarakat tutur, dalam bentuk minimal, memperkecil adanya perbedaan variasi dialectal dan menyatukan masyarakat tutur yang berbeda dialeknya.
  1. Fungsi pemisah
Yang di maksud dengan fungsi pemisah (separatist function) adalah ragam bahasa baku itu dapat memisahkan atau membedakan penggunaan ragam bahasa tersebut untuk situasi yang formal dan yang tidak formal.Para penutur harus bisa menentukan kapan dia harus menggunakan ragam yang baku dan kapan pula yang tidak baku.
  1. Fungsi harga diri
Yang di maksud dengan fungsi harga diri (prestige function) adalah bahwa pemakai  ragam baku itu akan memiliki perasaan harga diri yang lebih tinggi daripada yang tidak dapat menggunakannya, sebab ragam bahasa baku biasanya tidak dapat di pelajari dari lingkungan keluarga atau lingkungan hidup sehari-hari. Ragam babhasa baku hamyai dapat di capai melalui pendidikan formal, yang tidak menguasai ragam baku tentu tidak dapat masuk ke dalam situasi-situasi formal, dimana ragam bahsa baku itu harus di gunakan.

  1. Fungsi kerangka acuan
Yang di maksud dengan fungsi kerangka acuan (frame of reference function) adalah ragam bahasa baku itu akan di jadikan tolak ukur untuk norma pemakain bahasa yang baik dan benar secara umum.
Keempat fungsi itu akan dapat di lakukan oleh sebuah ragam bahasa baku kalau ragam bahasa baku itu telah memiliki tiga ciri  yang sangat penting, yaitu (1) memiliki cirri kemantapan yang dinamis (2) memiliki cirri kecendekiaan, dan (3) memiliki ciri kerasionalan. Ketuga cirri ini bukan merupakan sesuatu yang sudah tersedia di dalam kode bahasa itu, melainkan harus diusahakan keberadaanya melalui usaha yang terus- menerus yang harus dilakukan dan tidak terlepas dari rangkaian kegiatan perencanaan bahasa.

2.2  Pemilihan ragam baku
Meolino (1975:2) mengatakan, bahwa pada umumnya yang layak di anggap baku adalah ujaran dan tulisan yang dipakai oleh golongan masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan paling besar kewibawaannya. Termasuk didalamnya para pejabat negara, para guru, warga media massa,alim ulama dan cendekiawan.
Sebenarnya banyak dasar atau criteria yang dapat digunakan untuk menentukan atau memilih sebuah ragam menjadi ragam bahasa baku. Dasar atau kriteri itu, antara lain (1) otoritas, (2) bahasa penilis-penulis terkenal, (3) demokrasi, (4) logika, dan (5) bahasa orang-orang yang terkemuka dalam masyarakat.
Dasar otoritas, maksudnya, penentuan baku atau tidak baku berdasar pada kewenangan orang yang di anggap ahli, atau pada kewenangan buku tata bahasa atau kamus. Kalau dasar bahasa para penulis terkenal yang di jadikan bahasa baku, maka akan terlihat adanya tiga macam kelemahan. Pertama, bahwa bahasa itu bukanlah hanya bahasa tulis saja, tetapi ada juga bahasa lisan. Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa penulus-penulis terkenal telah menguasai aturan tata bahasa dengan baik. Ketiga, karena penulis-penulis terkenal itu berbeda pada zaman yang lalu, makapertanyaan kita untuk menyatakan keberatan, apakah bahasa penulis-penulis terkenal itu bahasanya masih sesuai keadaan sekarang.
Dasar demokrasi, maksudnya, untuk menentukan bentuk bahasa yang benar dan tidak benar atau baku dan tidak baku, tentunya kita harus menggunakan data statistic. Setiap bentuk satuan bahasa harus di selidiki, dicatat, lalu di hitung frekuensi penggunaannya. Mana yang terbanyak itulah yang dianggap benar; yang frekuensinya sedikit  tidak dianggap benar.
Dasar logika, maksudnya, dalam penentuan baku dan tidak baku digunakan pemikiran logika, bisa diterima akal atau tidak. Tampaknya dasar logika tidak dapat digunakan untuk menentukan kebakuan bahasa, sebab seringkali benar dan tidak benar struktur bahasa tidak sesuai dengan pemikiran logika.
Dasar bahasa orang-orang terkemuka dalam masyarakat sejalan dengan konsep Moeliono (1975:2) di atas maksudnya, penetuan baku dan tidak bakunya suati bentuk bahasa didasarkan pada bahasa oaring-oarang terkemuka seperti pemimpin, wartawan, pengrang, guru, dan sebagianya.
Usaha pembakuan bahasa, sebagai salah satu usaha pembinaan dan pengembangan bahasa, tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari berbagai sarana, antara lain: pendidikan,industri buku, perpustakaan, administarsi negara,media massa, tenaga, penelitian.

2.3  Bahasa indonesia baku
Andaikata kita telah memilih salah satu ragam bahasa Indonesia untuk di jadikan ragam baku, dan mengolahnya agar ragam tersebut memiliki cirri kemantapan yang dinamis, memiliki cirri kecendeliaan, dan memiliki cirri kerasionalan, maka tindakan pembakuan itu harus dikenakan kepada semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonologi,morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantic. Tentunya proses pengolahan itu harus di lakukan terus-menerus selama bahasa itu digunakan.
Yang diatur di dalam ejaan adalah cara menggunakan huruf; cara penulisan kata dasar, kata ulang, kata gabung; car penulisan kalimat; dan juga cara penulisan unsure-unsur serapan. Berikut ini contoh penulisan bentuk kata yang baku dan tidak baku.

Betuk baku                                    Bentuk tidak baku
administratif                      administratip
anggota                             anggauta
apotek                               apotik,apothek
maaf                                  ma’af, maap
zaman                                jaman

Simpulan dan Saran
Simpulan
bahasa baku adalah Halim (1980) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat pemakaianya sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya, sedangkan ragam yang tidak baku adalah ragam yamg tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma bahasa baku. Ragam bahasa baku memiliki empat fungsi yaitu fungsi pemersatu, fungsi pemisah, fungsi harga diri, dan funsi kerangka acuan. Dari keempat fungsi itu terdapat tiga cirri yaitu ciri kemantapan yang dinamis, cirri keendekiaan,dan cirri kerasionalan.Proses pemilihan suatu ragam untuk dijadikan ragam bahasa baku mempunyai beberapa dasar atau criteria yaitu dasar otoritas,bahasa penulis-penulis terkenal,demokrasi, logika, dan bahasa orang-orang yang dianggap terkemuka dalam masyarakat.
Saran
Adapun saran yang dapat kami sisipkan dalam artikel adalah kiranya makalah dapat dijadikan sebagai salah satu referensi untuk pengetahuan tentang pembelajaran ragam bahasa baku.Dalam makalah ini mungkin banyak terdapat kesalahan-kesalahan, oleh karena kamipun sangat membutuhkan saran-saran yang bersifat membangun agar penyusunan makalah berikutnya lebih baik.

Tinjauan Pustaka

Chaer, Abdul. 2004. sosiolinguistik. akarta: Rineka cipta

Kode Etik Guru Indonesia


KODE ETIK GURU INDONESIA
Persatuan Guru Republik Indonesia menyadari bahwa Pendidikan adalah merupakan suatu bidang Pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa dan Tanah Air serta kemanusiaan pada umumnya dan …….Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan Undang –Undang Dasar 1945 . Maka Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya sebagai Guru dengan mempedomani dasar –dasar sebagai berikut :
  1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangun yang berjiwa Pancasila
  2. Guru memiliki kejujuran Profesional dalam menerapkan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing –masing .
  3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik , tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan .
  4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik –baiknya bagi kepentingan anak didik
  5. Guru memelihara hubungan dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan .
  6. Guru secara sendiri – sendiri dan atau bersama – sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu Profesinya .
  7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan maupun didalam hubungan keseluruhan .
  8. Guru bersama –sama memelihara membina dan meningkatkan mutu Organisasi Guru Profesional sebagai sarana pengapdiannya.
  9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang Pendidikan.

Sejarah Singkat Unhalu

Universitas Haluoleo (Unhol) didirikan pada tahun 1964 sebagai perguruan tinggi swasta filial dari Universitas Hasanuddin Makassar. Setelah tujuh belas tahun berselang, Universitas Haluoleo diresmikan sebagai perguruan tinggi negeri pertama di Sulawesi Tenggara oleh Dirjen Pendidikan Tinggi; Prof. Dr. Doddy Tisnaamidjaja mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang masa itu dijabat oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto pada tangggal 19 Agustus 1981 sebagai perguruan tinggi negeri ke 42 di Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 37 tahun 1981 yang terdiri dari:
- Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
- Fakultas Ekonomi
- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
- Fakultas Pertanian.
Ketika diresmikan, Universitas Haluoleo menempati kampus Kemaraya yang arealnya hanya seluas 7 Ha. Kondisi kampus yang relatif sempit ini mengharuskan para pendiri untuk mencari kampus alternatif sekaligus sebagai perluasan daya tampung`dan mengantisipasi pertambahan fakultas. Seiring dengan itu, kepercayaan masyarakat pun semakin besar terhadap Universitas Haluoleo, kendati hanya didukung oleh 17 orang tenaga dosen tetap.
Setelah dua tahun diresmikan, dimulailah pembangunan kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu yang menempati areal 250 Ha, yang ketika itu berada di pinggiran Kota Kendari, berjarak 14 kilometer dari pelabuhan laut Teluk Kendari. Setelah perluasan Kota Kendari, kampus Anduonohu saat ini berada di jantung kota. Bersamaan dengan itu, Senat Universitas Haluoleo menyhetujui singkatan Universitas Haluoleo berubah menjadi UNHALU.
Pembangunan kampus yang relatif luas ini membutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun untuk merampungkan gedung perkulihan dan gedung perkantoran serta fasiltas penunjang lainnya. Menandai rampungnya pembangunan kampus Anduonoho ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro pada tanggal 4 April 1994 melakukan penandatanganan prasasti peresmian.
Menjelang penyelesaian pembangunan Kampus Anduonohu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menutup pengoperasian Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Sekolah Guru Olahraga (SGO), sehingga semua fasilitas berikut tenaga pengajar dan karyawannya dialihkan ke Universitas Haluoleo. Sejak saat itu Universitas Haluoleo memiliki dua kampus perkuliahan utama, yakni; Kampus Kemaraya dan Kampus Anduonohu, ditambah dua kampus pendukung perkuliahan bekas SPG dengan luas areal 4 ha dan 3 ha bekas SGO.
Sebagai Perguruan Tinggi terkemuka di jazirah tenggara Pulau Sulawesi, Universitas Haluoleo secara aktif memberi sumbangan pemikiran dalam rangka pengembangan 1528 desa, 67 kecamatan, 4 kabupaten, 2 Kotamadya dan 1 Kota Administratif yang ada di wilayah ini. Termasuk pertumbuhan penduduk Sulawesi Tenggara yang mencapai 2,72% per tahun, jauh di atas pertumbuhan rata-rata penduduk nasional yakni; 1,92. Saat ini penduduk Sulawesi Tenggara berjumlah 1,72 juta jiwa yang sebagian besar bermukim di pedesaan.
Kata “Haluoleo” diambil dari nama salah seorang raja pada Kerajaan Konawe yang hidup sekitar abad tujuh belas. Haluoleo selain dikenal sebagai pemimpin yang bijak, diyakini pula sebagai ksatria yang tak kenal menyerah dan gigih membela tumpah darahnya. Secara harfiah Haluoleo berarti delapan hari dalam bahasa Tolaki – bahasa penduduk asli Kerajaan Konawe yang mendiami Kendari. 

Sumber : http://www.unhalu.ac.id/id/media.php?menu=ttgunhalu&submenu=sejarah

Dongeng-Dongeng buton


BONE MALEI
                Suatu saat  Buton diperintah oleh seorang raja yakni Raja Mulae. Pada zaman itu di Bone Tobungku Kapontori ada huru-hara yang dipimpin oleh La Bolontio.Rakyat yang tinggal di Bone Tobungku sangat takut dengan La Bolontio karena dia hanya memiliki satu mata saja. Ia kejam dan tinggi hati , semua orang merasa tidak tenteram . Harta bendanya dirampas , diambil atau dirusakkan.
                Beberapa saat kemudian huru-hara tersebut sampailah beritanya di Istana dan telah diketahui oleh Raja. Setelah itu raja mengadakan keputusan, siapa-siapa yang dapat membunuh La Bolontio, akan diberi hadiah, dikawinkan dengan putrinya yang bernama Wa Tampaydongi. Namanya di Istana dikenal dengan Boroko Malanga.
                Berita tersebut menyebar di seluruh kerajaan.Para satria yang berani semua menuju Bone Tobungku.Murhum pun ikut mengadu untung.Menurut berita Murhum naik sampan menuju Bone Tobungku.Setelah tiba Murhum naik ke darat. Setelah menginjakkan kaki di pantai, ia berpura-pura pincang berjalan menuju La Bolontio. Menurut ceritera , La Bolontio berjalan pula menuju Murhum . Setelah La Bolontio mendekat , Murhum, memasukkan kakinya kedalam pasir, dan secara tiba-tiba disentakkan kearah mata La Bolontio, sehingga penuh dengan pasir . Murhum itu menghunus kerisnya lalu menikam La Bolontio, tetapi tidak mampan. Melihat itu Murhum merampas keris La Bolontio kemudian ditikamkan pada La Bolontio dengan kerisnya sendiri. Saat itu La Bolontio terbanting lalu meniggal dunia.Melihat itu kawan-kawan Murhum lalu mengejar pasukan La Bolontio untuk berkelahi, sebagian meninggal, sebagian ditawan dan sebagian lagi melarikan diri.Saat itu juga Murhum memenggal leher La Bolontio dan kepalanya dibawa segera pada Raja supaya Raja yakin bahwa La Bolontio yang bermata satu telah dikalahkan.
                Sesudah itu Murhum memotong pula alat fital La Bolontio untuk di persembahkan kepada Raja Mulae sebagai bukti bahwa yang membunuh La Bolontio adalah Murhum.
                Kemudian dari pada itu Murhum telah diakui Raja Mulae dan langsung dikawinkan dengan Boroko Malanga.Akhirnya kepala La Bolontio diserahkan kepada orang Siompu untuk disimpan dalam gua yang berada di atas batu di Lontoi.Saat pertempuran di Bone Tobungku sangat banyak pasukan La Bolontio yang terbunuh, sehingga pasir menjadi berwarna merah karena darah. Itulah sebabnya Bone Tobungku di gelar dengan nama‘’Bone Malei”.










LANDOKE-NDOKE Ke MANU
Pada zaman dahulu, kera dengan ayam bersahabat erat.Suatu waktu kera memanggil sahabatnya untuk berjalan-jalan menyaksikan keindahan alam.
Karena asyiknya mereka lupa bahwa hari sudah sore.Pada saat itu kera telah merasa lapar benar.
Tiba-tiba kera berkata ‘’ Apa itu yang lewat ‘’.Mendengar itu ayam berpaling ke belakang. Pada saat itulah kera langsung menangkap ayam sambil berkata ‘’saya akan makan kamu sekarang ‘’, seraya mencabut bulu ayam dengan  cepatnya.
Saat itu ayam belum bergerak.Ia mengumpulkan tenaga. Setelah cukup tenang perasaannya ia berontak dengan kuatnya. Akhirnya terlepas dari tangan kera. Ayam berlari mencari sahabatnya yang lain. Tak lama kemudian bertemu dengan kepiting.Ayam berkata, sedang mengapakah engkau sahabatku? ‘’ kepiting menjawab :’’ sedang duduk dan beristirahat ‘’ jawabnya , kalau engkau ayam mengapa sampai di sini’’, tanyanya, kemudian ayam datang mendekat, duduk disamping kepiting. Mendengar semua itu, kepiting member i tahu ayam agar dia bersabar saja, jangan risau dengan hal itu.
Keesokanya harinya kepiting dengan ayam pergi berjalan-jalan ditepi pantai.Tidak lama antaranya mereka melihat sahabatnya burung Bangau sedang asyik naik perahu. Setelah dekat mereka berkata : Bolehkah kami ikut bersamamu hai Burung Bangau?. Burung Bangau menyetujui permintaan mereka , hanya saja mereka harus tahu, bahwa perahunya mudah terbalik.
Akhirnya mereka naik bertiga.
            Belum jauh berdayung mereka dilihat oleh kera sahabat ayam tadi.Ia mendekat pantai sambil bertanya: ‘’ Hendak kemana kalian bertiga?’’ Kami akan memetik buah manngga di seberang. Kera berkata lagi :’’bolehkah dengan saya?’’. Mendengar itu perahu burung bangau mendekat ke tepi, lalu kera naik dengan gembira dan senang hati.
            Kemudian sampan kembali didayung menuju ke tengah. Dalam jarak yang kurang lebih kedalaman satu depan ayam berkokok sambil kentut didepan kera. Mendengar itu kera menoleh kebelakang sambil tertawa dan bergoyang.
            Pada saat itu akhirnya sampan mereka terbalik langsung tenggelam.Kepiting menyelam ke dasar laut, ayam dan burung bangau terbang ke darat dan kera terpaksa menemui ajalnya karena tidak dapat berenang.









KELAPA BUSUK
                Dahulu kala ada sebuah kampung di daerah Wolio yang ditinggali seorang wanita tua yang sudah berambut putih.Ia tinggal pada sebuah pondok kecil di dalam kebun kelapa seorang diri. Suaminya telah lama meninggal dunia.Anaknya tiga orang tetapi sudah meninggal juga semuanya.Kehidupannya hanya mengharapkan harga kelapa yang dijualnya setiap hari, yang datang membeli kelapa setiap hari silih berganti.
                Pada suatu saat, datanglah seorang anak untuk membeli kelapa. Ia disuruh ayahnya untuk membeli kelapa .Baju yang dipakainya sudah robek-robek. Setelah tiba, ia bertanya pada orang tua di pondok tersebut: ‘’ Ibu, tidakkah menjual kelapa busuk?’’karena uang yang diberikan ayahku hanya satu sen saja. Orang tua tadi tidak menjawab. Ia tercengang sambil memperhatikan anak tersebut dengan seksama . Melihat hal yang demikian anak tersebut lalu berkata’’ Mohon  maaf Bu, mungkin saya tidak sopan hingga pertanyaan saya tidak dijawab oleh Ibu. ‘’Mendengar itu , Ibu tadi lalu kaget sambil, berkata: ‘’Aduh nak , sangat sedih hati Ibu melihat engkau ini, kalau boleh akku bertanya dimanakah engkau tinggal?’’. Anak itu pun lalu menjawab lagi :’’ Aku tinggal bersama ayah diujung kampung ini ‘’. Orang tua tadi pun lalu bertanya lagi, ibumu dimana?’’.Ibuku telah lama meninggal dunia. Sesudah itu orang tua itu pun lalu mengambil dua buah sambil berkata: ‘’ Ambillah kelapa ini jangan dibeli lagi’’. Melihat hal itu anak tadi lalu berkata lagi:’’ Kalau bisa berilah aku kelapa busuk saja sebuah’’. Orang tua itu pun berkata pula, Ambillah kelapa itu dan ambil pula kelapa busuk ini sedapatmu kau membawanya’’janganlah dijual lagi pada orang lain’’, lalu ia mohon diri untuk pulang.
                Setelah tiba  di tempat tinggalnya lalu berkata pada ayahnya.’’Inilah kelapa, tetapi kita tidak beli lagi, kita hanya diberi saja dengan Cuma-cuma, ayahnya turut bergembira pula lalu berkata lagi pada anaknya,’’ wa Meose, bagaimana kelapa busuk untuk makanan kepiting kenarimu.’’Ada juga pak’’.
                Setelah itu, wa Meose langsung mengupas kelapa busuknya, tempurngnya pun dikupas, lalu dengan setengah berlari ia menuju gua dibelakang tempat tinggal mereka. Setelah tiba ia masuk dalam gua. Tidak lam kemudian ia pun menyanyikan lagu kebiasaanya sehari-hari dengan pantun  sebagai berikut:
Kepiting kenariku, kepiting kenariku marilah keluar
Aku datang membawa makananmu
Inilah kelapa santan yang enak
Penawar rasa iadman hatimu
                Baru dua kali ia menyanyi dengan penuh kasih, terdengarlah bunyi guntur disertai kilat yang menyilaukan mata seperti pada kebiasaan sehari-hari. Setelah itu kepiting kenarinya sudah berada dii hadapannya. Wa Meose, lalu duduk dan memberinya makanan dengan kelapa busuk. Kepiting kenari pun lalu makan dengan sepuas-puasnya sampai ia kenyang. Setelah itu ia merangkak dan duduk di berkenalan, alangkah banyaknya pertolongan yang kau berikan padaku. Dan juga alangkah besar kesayanganmu padaku.Oleh karena itu aku ingatkan padamu, sayangilah semua manusia dan hewan yang di muka bumi ini, supaya kau juga dapat disayangi oleh semua mereka. Engkau sekarang belum  disekolahkan oleh orang tuamu  karena ketiadaan biaya. Tetapi kau jangan  risau dan bersedih hati. Tuhan senantiasa bersama orang tawakal.
                Tidak lama kemudian kepiting kenari mengeluarkan sebutir mutiara dari dalam jari-jari kelingkingnya lalu diserahkan pada Wa Meose temannya.Wa Meose lalu mengambil mutiara itu. Setelah digenggam tiba-tiba kedengaran pula guntur dan dibarengi dengan kilat sebagaimana hari-hari yang lain. Selesai itu kelihatan sebuah bungkusan yang berisi dengan beraneka ragam pakaian kanak-kanak dan orang tua, serta segala macam perhiasan indah-indah yang sangat mengherankan oleh Wa Meose adalah pakaian yang ada dibadanya telah berubah menjadi pakaian dan perhiasan yang bagus-bagus pula.Bekas luka yang ada dibadanya menjadi hilang.Hidungnya yang pesek menjadi hidung mancung.Ia telah pandai membaca dan menulis serta sembahyang dan mengaji. Semua ilmu telah dimilikinya.Itulah kecintaan Al Khalik kepada umatnya yang taqwa.
                Setelah itu kepiting kenari pun berkata lagi: Dengar pula Meose, mulai hari ini kita tidak akan ketemu lagi disini. Kau jangan lagi datang dalam gua disini, karena tidak ada lagi saya.Selesailah kutukan dan hukuman Yang Maha Kuasa kepadaku karena aku tidak mengikuti nasihat orang tuaku.Untunglah kita telah bersahabat sehingga aku cepat keluar dari kutukan.Aku adalah anak Raja Bawa Angin. Aku akan pulang pada orang tuaku supaya aku bersekolah seperti anak-anak yang lain.
                Setelah itu kepiting kenari pun menjadi manusia kembali seperti adanya Wa Meose. Esok dan lusa kita akan ketemu kembali setelah kita menjadi dewasa nanti. Mutiara bagianmu itu apabila ada yang kau perlukan barulah kau pegang.Setelah selesai kau simpan dalam bungkusan yang tidak ditahu orang. Dan jangan kau lupakan apa yan saya katakana ini. Orang tuamu jangan dikerasi ikuti semua  nasehatnya. Guru sekolah dan pengajianmu jangan kau lupakan. Teman-temanmu  jangan kau kasari. Jangan sekali-kali kau tinggi hati.Jamgan ingkar dengan ajaran agama dan sekolahmu.Sayangilah binatang dan makhluk lainnya. Jaga kata –katamu jangan sampai menyinggung persaan orng lain.
                Setelah itu merekapun keluar dari dalam gua.Mereka berpisah satu ke Timur satu ke Barat.Wa Meose menyanyikan lagu sebagaimana kebiasaannya memanggil kepiting kenari.
                Sahabatnya itu pun lalu menjawab.Ya, aku tidak melupakanmu. Nanti kali lain kita berjumpa lagi.
                Tidak lama kemudian tibalah Wa Meose di pondok orang tuanya.Ayahnya sementara mencabut rumput dihalaman.Bungkusan pakaian yang dibawahnya lalu diletakkan didalam pondok. Kemudian Wa Meose membuka mutiaranya dalam bungkusan lalu di dipegangnya dengan  niat meminta rumah besar. Terjadilah bunyi guntur dan kilat. Setelah itu berdirilah mahligai bersusun dengan segala isiny dan kelengkapannya.Ayahnya diam penuh dengan keheranan.Wa Meose segera memberi tahu ayahnya. Ayah sekarang berdoalah tanda syukur kepada Allah. Secara kebetulan besok bertepatan dengan lima belas hari bulan Sya’ban .
                Kita mengadakan persiapan perjamuan makan untuk semua masyarakat kampung ini. Kita undang semua mereka datang kerumah baru kita guna bersama-sama memohon doa restu Yang Maha Kuasa agar senatiasa diberi Ridha oleh-Nya.