SENI MEMOTIVASI DIRI SENDIRI
DALAM PRESTASI BELAJAR
H I K M A H
Mahasiswa PBSID Universitas Haluoleo
Abstrak
SENI MEMOTIVASI DIRI
SENDIRI DALAM PRESTASI BELAJAR. Motivasi
adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini
berada pada diri seseorang (motivasi intrinsik) dan dorongan yang berada di
luar (motivasi ekstrinsik) yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang
sesuai dengan dorongan dalam dirinya dan di luar dirinya, oleh karena itu
perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema
sesuai dengan motivasi yang mendasarinya. Untuk dapat memenuhi motivasi
seserang maka harus mengetahui kekuatan-kekuatan pribadi yang bisa
membangkitkan kebutuhan untuk melakukan aktivitas atau tingkah laku dan
mengetahui kelemahan-kelemahan pribadi yang merupakan daerah buta dalam meraih
prestasi belajar. Dengan demikian perlu adanya review unuk meninjau
kekuatan-kekuatan apa saja yang sudah dikembangkan dan kelemahan-kelemahan apa
saja yang telah diintrospeksi. Belajar adalah suatu proses sehingga terjadi
perubahan tingkah laku seseorang terhadap aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik. Realisasi dari ketiga aspek ini dapat dilihat dari tingkah laku
atau perilakunya baik berperilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan,
keterampilan berpikir maupun kemampuan motorik atau biasa disebut prestasi
belajar. Penguasaan terhadap hasil belajar dapat diketahui dari seberapa besar
tingkat motvasi yang dimiliki seseorang. Semakin besar motivasi yang dimiliki
seseorang maka semakin tinggi pula tingkat penguasaan terhadap hasil belajar. Sebaliknya, semakin rendah
tingkat motivasi yang melekat pada seseorang maka semakin rendah pula
penguasaan terhadap hasil belajar. Sebagaimana dalam fungsi motivasi dikatakan
bahwa motivasi sebagai penggerak yang memberikan energi aau kekuatan kepada
seseorang untuk melakukan sesuatu, menuju kearah perwujudan tujuan atau
mencegah dari penyelewengan dari tujuan dan menentukan perbuatan-perbuatan mana
yang harus dilakukan.
Kata kunci:
motivasi, belajar, hasil belajar.
Setiap
kegiatan belajar akan berujung dengan harapan pencapaian prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar
merupakan indikator keberhasilan baik bagi seorang guru maupun bagi siswa itu
sendiri. Tidak ada seorangpun siswa yang menginginkan prestasi belajarnya
buruk. Namun, untuk memperoleh semua itu tidak mudah karena banyaknya faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar, sehingga prestasi belajar yang dipeoleh
setiap siswa berbeda-beda. Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi
prestasi belajar siswa tersebut diantaranya faktor motivasi belajar. Motivasi
sebagai salah satu faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
siswa. Karena dalam motivasi tersebut terdapat unsur-unsur yang bersifat
dinamis dalam belajar seperti perasaan, perhatian, kemauan dan lain-lain.
Motivasi belajar ini tidak hanya tumbuh dari dalam diri siswa melainkan
motivasi juga dapat muncul berkat adanya daya penggerak dari orang lain guna
menambah semangat belajar siswa baik di rumah maupun di sekolah. i
Motivasi
berasal dari kata “motif” yang artinya daya upaya yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Motif dapat
dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari kata
“motif”, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah
menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat – saat tertentu bila kebutuhan
untuk mencapai tujuan sangat dirasakan / mendesak ( Sardiman 2003:73). Motivasi
mempunyai tiga komponen utama yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan
terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang mereka
miliki dengan apa yang mereka harapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental
untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Dorongan merupakan
kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian
tujuan. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti dari
pada motivasi (Dimyati;Mudjiono Dkk.2002:88).
Menurut jenisnya motivasi dapat dibedakan
menjadi dua yaitu motivasi primer dan motivasi skunder. Motivasi primer adalah
motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut
umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia. Sedangkan motivasi
skunder adalah motivasi yang dipelajari. Sebagai contoh, orang yang lapar akan
tertarik pada makanan tanpa belajar (Dimyati;Mudjiono 2002:86). Sedangkan sifat
motivasi dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik adalah motivasi / dorongan yang dikarenakan orang tersebut
senang melakukannya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap
perilaku seseorang yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya. Seseorang yang
mempunyai motivasi atau dorongan yang lahir dari dalam dirinya sendiri akan
lebih mudah dalam mencapai suatu keberhasilan dibandingkan dengan orang yang
membutuhkan motivasi atau faktor pendorong yang berasal dari luar dirinya. Hal
ini terjadi karena adanya inisiatif atau kemauan serta keinginan untuk selalu
meraih sesuatu yang diharapkan oleh seseorang yang bermotivasi intrinsik
tersebut. Biasanya orang yang demikian memiliki sifat aktif. Lain halnya dengan
orang yang memiliki sifat pasif yang selalu harus digerakkan oleh pihak lain
sehingga kemauan untuk berusaha meraih cita-cita sedikit lamban.
Untuk memperoleh hasil belajar
yang baik dipelukan adanya motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan
berhasil pula dalam mempelajari suatu pelajaran. Jadi motivasi ini akan
senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Sehubungan
dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi yaitu mendorong manusia untuk
berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi, menentukan
arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai, menyeleksi perbuatan,
yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna
mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut. Motivasi juga berfungsi untuk mendorong timbulnya kelakuan atau suatu
perbuatan, sebagai pengarah dan sebagai penggerak.
Motivasi
merupakan salah satu faktor psikologi dalam belajar yang mempunyai peranan yang
sangat penting yaitu sebagai penggerak atau pendorong jiwa seseorang untuk
melakukan suatu kegiatan belajar. Meskipun demikian, motivasi ini dapat berubah
hilang seketika dan muncul dengan tiba-tiba. Hal ini terjadi karena adanya
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Adapun faktor-faktor tersebut
yaitu cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi
lingkungan, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, upaya guru
dalam membelajarkan siswa. Ada beberapa pula bentuk dan cara untuk menumbuhkan
motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, yaitu memberi angka (sebagai simbol
dari nilai kegiatan belajar siswa), hadiah, saingan atau kompetisi,
Ego-involvement (menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya
tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan
mempertaruhkan harga diri), memberi ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman,
hasrat untuk belajar, minat, serta tujuan yang diakui.( Sardiman 2003:92-95).
Secara psikologis, belajar
merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut
Sudjana (2000 : 5 ) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai
dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari
proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan
pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan,
kebiasaan serta perubahan-perubahan aspek lain yang ada pada individu belajar.
Adapun teori-teori dalam belajar adalah a) teori belajar menurut ilmu jiwa daya
yakni jiwa manusia itu terdiri dari macam-macam daya. Masing-masing daya dapat
dilatih dalam rangka untuk memenuhi fungsinya. Untuk melatih suatu daya dapat
dipergunakan berbagai cara atau bahan. Sebagai contoh untuk melatih daya ingat
dalam belajar misalnya dengan menghafal kata-kata atau angka, istilah- istilah
asing. Begitu pula untuk daya-daya yang lain. Yang penting dalam hal ini bukan
penguasaan bahan atau materinya, melainkan hasil dari pembentukan dari
daya-daya itu. Kalau sudah demikian maka seseorang yang belajar itu akan
berhasil, b) teori belajar menurut ilmu jiwa gestalt yang berpandangan bahwa
keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian atau unsur. Sebab keberadaannya
keseluruhan itu juga lebih dulu. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula pada
suatu pengamatan. Menurut teori ini memang mudah atau sukarnya suatu pemecahan
masalah itu tergantung pada pengamatan. Belajar menurut ilmu jiwa gestalt, juga
sangat menguntungkan untuk kegiatan belajar memecahkan masalah. Hal ini
nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu
pengamatan. Belajar memecahkan suatu masalah diperlukan juga suatu pengamatan
secara cermat dan lengkap, c). teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi yang
berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan
bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Dari aliran ini ada dua teori yang sangat
terkenal yaitu teori konektionisme (belajar adalah pembentukan hubungan antara
stimulus dan respon, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respon ini
akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang
terus menerus, hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi tersiasat,
otomatis), teori conditioning (seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaan
karena adanya suatu tanda), dan teori konstruktivisme (belajar merupakan proses
aktif dari si subyek belajar untuk merekonstruksi makna, sesuatu entah itu
teks, kegiatan dialok, pengalaman fisik dan lain-lain.
Dalam mencapai prestasi belajar
perhatian juga mempunyai peranan yang sangat penting. Perhatian terhadap
pelajaran akan timbul pada seseorang apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai suatu kebutuhan,
diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila
perhatian alami tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya. Disamping
perhatian, motivasi merupakan peranan penting dalam mencapai prestasi belajar.
Prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh atau dicapai siswa setelah
mengikuti proses belajar disekolah melalui tes/evaluasi yang diwujudkan dalam
bentuk angka atau huruf. Untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat prestasi
siswa, seorang guru harus menetapkan batas minimal keberhasilan belajar siswa.
Dalam mencapai prestasi belajar kita juga harus mengetahui kekuatan-kekuatan
pribadi seperti memiliki gagasan, bersifat terbuka, bisa mengerti situasi,
mandiri dalam bekerja (pintar), sistematis dalam berindak (sabar), berfikir
sebelum bertindak, suka bekerja dengan gagasan baru, logis, analitis, objektif,
kritis, tegas, bisa berintegrasi dengan orang lain, mampu melihat
kemungkinan-kemungkinan, dan tekun mengerjakan hal-hal yang rumit. Selain
kekuatan-kekuatan yang kita miliki kita juga harus mampu melihat
kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri agar dapat diperbaiki seperti
menghindar dari orang lain, tidak objektif dan tidak logis, bekerja karena
didorong, tidak senang diganggu, tergantung pada orang lain, perlu suasana khusus
jika belajar/bekerja, tidak sabar mengerjakan pekerjaan rutin, tidak sabar akan
hal-hal yang tidak menarik, dan tidak kritis. Menurut Syah (2004 : 219) ada
beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah
mengikuti proses belajar mengajar. Diantara norma-norma pengukuran tersebut
ialah norma skala angka dari 0 sampai 10, norma skala angka dari 10 sampai 100.
Angka terendah yang menyatakan kelulusan / keberhasilan belajar (passing grade)
skala 0 sampai 10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0 sampai 100 adalah
55 atau 60. Pada prinsipnya jika seorang siswa dapat meneyelesaikan lebih dari
setengah instrumen evaluasi dengan benar, siswa dianggap telah memenuhi target
minimal keberhasilan belajar. Namun demikian, kiranya perlu dipertimbangkan
oleh para guru sekolah terhadap penetapan passing grade yang lebih tinggi
(misalnya 65 atau 70) untuk pelajaran inti. Penilaian prestasi belajar ini
meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Evaluasi prestasi kognitif
dapat dilakukan dengan berbagai cara baik dengan tes tertulis maupun dengan tes
lisan dan perbuatan. Sedangkan evaluasi prestasi afektif dapat dilakukan dengan
menggunakan skal likert dan atau diferensial semantik yang tujuannya untuk
mengidentifikasi kecenderungan / sikap siswa mulai sangat setuju, raguragu,
tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap sesuatu yang harus direspon.
Evaluasi prestasi psikomotor dapat dilakukan dengan mengobservasi perilaku
jasmaniah siswa dicatat dalam format observasi ketrampilan melakukan pekerjaan
tertentu.
Dalam mencapai prestasi belajar
diperlukan keberanian untuk menentukan target, yakini dan percaya bahwa kita
bisa serta diwujudkan dalam perjuangan nyata untuk bisa menjadi seseorang
seperti yang diinginkan. Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor baik
faktor ekstern maupun faktor intern. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
prestasi belajar tsiswa tersebut meliputi motivasi, Motivasi merupakan salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar Motivasi ini bersifat
dinamis sehingga kapan saja motivasi tersebut bisa muncul dan bahkan menghilang
secara tiba-tiba. Mengingat sifat motivasi yang demikian, maka sangat penting
sekali motivasi tersebut untuk dibangkitkan serta dipelihara guna menggairahkan
belajar anak / siswa. Dengan munculnya motivasi ini baik yang berasal dari luar
maupun dalam, akan sangat membantu didalam mencapai suatu prestasi belajar. Hal
ini berarti bahwa motivasi mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Sesuai dengan landasan teori yang ada yaitu bahwa Motivasi adalah sebagai daya
penggerak yang telah menjadi aktif yaitu pada saat-saat tertentu bila kebutuhan
untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak (Sardiman 2003:73). Teori
ini mengandung arti bahwa setiap orang atau siswa yang memiliki motivasi
belajar yang tinggi akan mendapatkan prestasi belajar yang tinggi pula.
Jadi, motivasi itu sangat berguna bagi
tindakan atas perbuatan seseorang yang mendukung manusia untuk berbuat dan
bertindak sebagai penggerak yang memberikan energi atau kekuatan kepada
seseorang untuk melakukan sesuatu, menentukan perbuatan yakni ke arah
perwujudan suatu tujuan atau cita-cita, serta menyeleksi perbuatan dalam arti
perbuatan mana yang harus dilakukan dan serasi guna mencapai suatu tujuan.
REFERENSI
Elida, Prayitno, Dra.1989.
Motivasi dalam Belajar. Jakarta : Dirjen Dikti
Proyek Pengembangan LPTK.
Wongso, Andrie. 2005. 15 Wisdom & Succes Classical Motivation
Stories. Jakarta
: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar