Kamis, 22 Desember 2011

Artikel


SENI MEMOTIVASI DIRI SENDIRI
DALAM PRESTASI BELAJAR

                              
H I K M A H
Mahasiswa PBSID Universitas Haluoleo


Abstrak

SENI MEMOTIVASI DIRI SENDIRI DALAM PRESTASI BELAJAR. Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang (motivasi intrinsik) dan dorongan yang berada di luar (motivasi ekstrinsik) yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya dan di luar dirinya, oleh karena itu perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya. Untuk dapat memenuhi motivasi seserang maka harus mengetahui kekuatan-kekuatan pribadi yang bisa membangkitkan kebutuhan untuk melakukan aktivitas atau tingkah laku dan mengetahui kelemahan-kelemahan pribadi yang merupakan daerah buta dalam meraih prestasi belajar. Dengan demikian perlu adanya review unuk meninjau kekuatan-kekuatan apa saja yang sudah dikembangkan dan kelemahan-kelemahan apa saja yang telah diintrospeksi. Belajar adalah suatu proses sehingga terjadi perubahan tingkah laku seseorang terhadap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Realisasi dari ketiga aspek ini dapat dilihat dari tingkah laku atau perilakunya baik berperilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun kemampuan motorik atau biasa disebut prestasi belajar. Penguasaan terhadap hasil belajar dapat diketahui dari seberapa besar tingkat motvasi yang dimiliki seseorang. Semakin besar motivasi yang dimiliki seseorang maka semakin tinggi pula tingkat penguasaan terhadap  hasil belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat motivasi yang melekat pada seseorang maka semakin rendah pula penguasaan terhadap hasil belajar. Sebagaimana dalam fungsi motivasi dikatakan bahwa motivasi sebagai penggerak yang memberikan energi aau kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu, menuju kearah perwujudan tujuan atau mencegah dari penyelewengan dari tujuan dan menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan.


Kata kunci: motivasi, belajar, hasil belajar.


Setiap kegiatan belajar akan berujung dengan harapan pencapaian  prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar merupakan indikator keberhasilan baik bagi seorang guru maupun bagi siswa itu sendiri. Tidak ada seorangpun siswa yang menginginkan prestasi belajarnya buruk. Namun, untuk memperoleh semua itu tidak mudah karena banyaknya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, sehingga prestasi belajar yang dipeoleh setiap siswa berbeda-beda. Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa tersebut diantaranya faktor motivasi belajar. Motivasi sebagai salah satu faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Karena dalam motivasi tersebut terdapat unsur-unsur yang bersifat dinamis dalam belajar seperti perasaan, perhatian, kemauan dan lain-lain. Motivasi belajar ini tidak hanya tumbuh dari dalam diri siswa melainkan motivasi juga dapat muncul berkat adanya daya penggerak dari orang lain guna menambah semangat belajar siswa baik di rumah maupun di sekolah. i
Motivasi berasal dari kata “motif” yang artinya daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif  dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari kata “motif”, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat – saat tertentu bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan / mendesak ( Sardiman 2003:73). Motivasi mempunyai tiga komponen utama yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang mereka miliki dengan apa yang mereka harapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti dari pada motivasi (Dimyati;Mudjiono Dkk.2002:88).
 Menurut jenisnya motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi primer dan motivasi skunder. Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia. Sedangkan motivasi skunder adalah motivasi yang dipelajari. Sebagai contoh, orang yang lapar akan tertarik pada makanan tanpa belajar (Dimyati;Mudjiono 2002:86). Sedangkan sifat motivasi dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi / dorongan yang dikarenakan orang tersebut senang melakukannya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya. Seseorang yang mempunyai motivasi atau dorongan yang lahir dari dalam dirinya sendiri akan lebih mudah dalam mencapai suatu keberhasilan dibandingkan dengan orang yang membutuhkan motivasi atau faktor pendorong yang berasal dari luar dirinya. Hal ini terjadi karena adanya inisiatif atau kemauan serta keinginan untuk selalu meraih sesuatu yang diharapkan oleh seseorang yang bermotivasi intrinsik tersebut. Biasanya orang yang demikian memiliki sifat aktif. Lain halnya dengan orang yang memiliki sifat pasif yang selalu harus digerakkan oleh pihak lain sehingga kemauan untuk berusaha meraih cita-cita sedikit lamban.
                Untuk memperoleh hasil belajar yang baik dipelukan adanya motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan berhasil pula dalam mempelajari suatu pelajaran. Jadi motivasi ini akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi yaitu mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi, menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai, menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Motivasi juga berfungsi untuk mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan, sebagai pengarah dan sebagai penggerak.
Motivasi merupakan salah satu faktor psikologi dalam belajar yang mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai penggerak atau pendorong jiwa seseorang untuk melakukan suatu kegiatan belajar. Meskipun demikian, motivasi ini dapat berubah hilang seketika dan muncul dengan tiba-tiba. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Adapun faktor-faktor tersebut yaitu cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, upaya guru dalam membelajarkan siswa. Ada beberapa pula bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, yaitu memberi angka (sebagai simbol dari nilai kegiatan belajar siswa), hadiah, saingan atau kompetisi, Ego-involvement (menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri), memberi ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat, serta tujuan yang diakui.( Sardiman 2003:92-95).
                Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Sudjana (2000 : 5 ) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan-perubahan aspek lain yang ada pada individu belajar. Adapun teori-teori dalam belajar adalah a) teori belajar menurut ilmu jiwa daya yakni jiwa manusia itu terdiri dari macam-macam daya. Masing-masing daya dapat dilatih dalam rangka untuk memenuhi fungsinya. Untuk melatih suatu daya dapat dipergunakan berbagai cara atau bahan. Sebagai contoh untuk melatih daya ingat dalam belajar misalnya dengan menghafal kata-kata atau angka, istilah- istilah asing. Begitu pula untuk daya-daya yang lain. Yang penting dalam hal ini bukan penguasaan bahan atau materinya, melainkan hasil dari pembentukan dari daya-daya itu. Kalau sudah demikian maka seseorang yang belajar itu akan berhasil, b) teori belajar menurut ilmu jiwa gestalt yang berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian atau unsur. Sebab keberadaannya keseluruhan itu juga lebih dulu. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula pada suatu pengamatan. Menurut teori ini memang mudah atau sukarnya suatu pemecahan masalah itu tergantung pada pengamatan. Belajar menurut ilmu jiwa gestalt, juga sangat menguntungkan untuk kegiatan belajar memecahkan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan suatu masalah diperlukan juga suatu pengamatan secara cermat dan lengkap, c). teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi yang berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Dari aliran ini ada dua teori yang sangat terkenal yaitu teori konektionisme (belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respon ini akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus, hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi tersiasat, otomatis), teori conditioning (seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaan karena adanya suatu tanda), dan teori konstruktivisme (belajar merupakan proses aktif dari si subyek belajar untuk merekonstruksi makna, sesuatu entah itu teks, kegiatan dialok, pengalaman fisik dan lain-lain.
                Dalam mencapai prestasi belajar perhatian juga mempunyai peranan yang sangat penting. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada seseorang apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai suatu kebutuhan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya. Disamping perhatian, motivasi merupakan peranan penting dalam mencapai prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh atau dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar disekolah melalui tes/evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk angka atau huruf. Untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat prestasi siswa, seorang guru harus menetapkan batas minimal keberhasilan belajar siswa. Dalam mencapai prestasi belajar kita juga harus mengetahui kekuatan-kekuatan pribadi seperti memiliki gagasan, bersifat terbuka, bisa mengerti situasi, mandiri dalam bekerja (pintar), sistematis dalam berindak (sabar), berfikir sebelum bertindak, suka bekerja dengan gagasan baru, logis, analitis, objektif, kritis, tegas, bisa berintegrasi dengan orang lain, mampu melihat kemungkinan-kemungkinan, dan tekun mengerjakan hal-hal yang rumit. Selain kekuatan-kekuatan yang kita miliki kita juga harus mampu melihat kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri agar dapat diperbaiki seperti menghindar dari orang lain, tidak objektif dan tidak logis, bekerja karena didorong, tidak senang diganggu, tergantung pada orang lain, perlu suasana khusus jika belajar/bekerja, tidak sabar mengerjakan pekerjaan rutin, tidak sabar akan hal-hal yang tidak menarik, dan tidak kritis. Menurut Syah (2004 : 219) ada beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Diantara norma-norma pengukuran tersebut ialah norma skala angka dari 0 sampai 10, norma skala angka dari 10 sampai 100. Angka terendah yang menyatakan kelulusan / keberhasilan belajar (passing grade) skala 0 sampai 10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0 sampai 100 adalah 55 atau 60. Pada prinsipnya jika seorang siswa dapat meneyelesaikan lebih dari setengah instrumen evaluasi dengan benar, siswa dianggap telah memenuhi target minimal keberhasilan belajar. Namun demikian, kiranya perlu dipertimbangkan oleh para guru sekolah terhadap penetapan passing grade yang lebih tinggi (misalnya 65 atau 70) untuk pelajaran inti. Penilaian prestasi belajar ini meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Evaluasi prestasi kognitif dapat dilakukan dengan berbagai cara baik dengan tes tertulis maupun dengan tes lisan dan perbuatan. Sedangkan evaluasi prestasi afektif dapat dilakukan dengan menggunakan skal likert dan atau diferensial semantik yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan / sikap siswa mulai sangat setuju, raguragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap sesuatu yang harus direspon. Evaluasi prestasi psikomotor dapat dilakukan dengan mengobservasi perilaku jasmaniah siswa dicatat dalam format observasi ketrampilan melakukan pekerjaan tertentu.
                Dalam mencapai prestasi belajar diperlukan keberanian untuk menentukan target, yakini dan percaya bahwa kita bisa serta diwujudkan dalam perjuangan nyata untuk bisa menjadi seseorang seperti yang diinginkan. Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor ekstern maupun faktor intern. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar tsiswa tersebut meliputi motivasi, Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar Motivasi ini bersifat dinamis sehingga kapan saja motivasi tersebut bisa muncul dan bahkan menghilang secara tiba-tiba. Mengingat sifat motivasi yang demikian, maka sangat penting sekali motivasi tersebut untuk dibangkitkan serta dipelihara guna menggairahkan belajar anak / siswa. Dengan munculnya motivasi ini baik yang berasal dari luar maupun dalam, akan sangat membantu didalam mencapai suatu prestasi belajar. Hal ini berarti bahwa motivasi mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Sesuai dengan landasan teori yang ada yaitu bahwa Motivasi adalah sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif yaitu pada saat-saat tertentu bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak (Sardiman 2003:73). Teori ini mengandung arti bahwa setiap orang atau siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan mendapatkan prestasi belajar yang tinggi pula. Jadi,  motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atas perbuatan seseorang yang mendukung manusia untuk berbuat dan bertindak sebagai penggerak yang memberikan energi atau kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu, menentukan perbuatan yakni ke arah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita, serta menyeleksi perbuatan dalam arti perbuatan mana yang harus dilakukan dan serasi guna mencapai suatu tujuan.








REFERENSI
Elida, Prayitno, Dra.1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta : Dirjen Dikti Proyek Pengembangan LPTK.
Wongso, Andrie. 2005. 15 Wisdom & Succes Classical Motivation Stories. Jakarta : PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar