BONE MALEI
Suatu saat Buton diperintah oleh seorang raja yakni Raja
Mulae. Pada zaman itu di Bone Tobungku Kapontori ada huru-hara yang dipimpin
oleh La Bolontio.Rakyat yang tinggal di Bone Tobungku sangat takut dengan La
Bolontio karena dia hanya memiliki satu mata saja. Ia kejam dan tinggi hati ,
semua orang merasa tidak tenteram . Harta bendanya dirampas , diambil atau
dirusakkan.
Beberapa saat kemudian huru-hara
tersebut sampailah beritanya di Istana dan telah diketahui oleh Raja. Setelah
itu raja mengadakan keputusan, siapa-siapa yang dapat membunuh La Bolontio,
akan diberi hadiah, dikawinkan dengan putrinya yang bernama Wa Tampaydongi.
Namanya di Istana dikenal dengan Boroko Malanga.
Berita tersebut menyebar di
seluruh kerajaan.Para satria yang berani semua menuju Bone Tobungku.Murhum pun
ikut mengadu untung.Menurut berita Murhum naik sampan menuju Bone
Tobungku.Setelah tiba Murhum naik ke darat. Setelah menginjakkan kaki di
pantai, ia berpura-pura pincang berjalan menuju La Bolontio. Menurut ceritera ,
La Bolontio berjalan pula menuju Murhum . Setelah La Bolontio mendekat ,
Murhum, memasukkan kakinya kedalam pasir, dan secara tiba-tiba disentakkan
kearah mata La Bolontio, sehingga penuh dengan pasir . Murhum itu menghunus
kerisnya lalu menikam La Bolontio, tetapi tidak mampan. Melihat itu Murhum
merampas keris La Bolontio kemudian ditikamkan pada La Bolontio dengan kerisnya
sendiri. Saat itu La Bolontio terbanting lalu meniggal dunia.Melihat itu
kawan-kawan Murhum lalu mengejar pasukan La Bolontio untuk berkelahi, sebagian
meninggal, sebagian ditawan dan sebagian lagi melarikan diri.Saat itu juga
Murhum memenggal leher La Bolontio dan kepalanya dibawa segera pada Raja supaya
Raja yakin bahwa La Bolontio yang bermata satu telah dikalahkan.
Sesudah itu Murhum memotong pula
alat fital La Bolontio untuk di persembahkan kepada Raja Mulae sebagai bukti
bahwa yang membunuh La Bolontio adalah Murhum.
Kemudian dari pada itu Murhum
telah diakui Raja Mulae dan langsung dikawinkan dengan Boroko Malanga.Akhirnya
kepala La Bolontio diserahkan kepada orang Siompu untuk disimpan dalam gua yang
berada di atas batu di Lontoi.Saat pertempuran di Bone Tobungku sangat banyak
pasukan La Bolontio yang terbunuh, sehingga pasir menjadi berwarna merah karena
darah. Itulah sebabnya Bone Tobungku di gelar dengan nama‘’Bone Malei”.
LANDOKE-NDOKE
Ke MANU
Pada zaman dahulu,
kera dengan ayam bersahabat erat.Suatu waktu kera memanggil sahabatnya untuk berjalan-jalan
menyaksikan keindahan alam.
Karena asyiknya
mereka lupa bahwa hari sudah sore.Pada saat itu kera telah merasa lapar benar.
Tiba-tiba kera
berkata ‘’ Apa itu yang lewat ‘’.Mendengar itu ayam berpaling ke belakang. Pada
saat itulah kera langsung menangkap ayam sambil berkata ‘’saya akan makan kamu
sekarang ‘’, seraya mencabut bulu ayam dengan
cepatnya.
Saat itu ayam belum
bergerak.Ia mengumpulkan tenaga. Setelah cukup tenang perasaannya ia berontak
dengan kuatnya. Akhirnya terlepas dari tangan kera. Ayam berlari mencari
sahabatnya yang lain. Tak lama kemudian bertemu dengan kepiting.Ayam berkata,
sedang mengapakah engkau sahabatku? ‘’ kepiting menjawab :’’ sedang duduk dan
beristirahat ‘’ jawabnya , kalau engkau ayam mengapa sampai di sini’’, tanyanya,
kemudian ayam datang mendekat, duduk disamping kepiting. Mendengar semua itu,
kepiting member i tahu ayam agar dia bersabar saja, jangan risau dengan hal
itu.
Keesokanya harinya
kepiting dengan ayam pergi berjalan-jalan ditepi pantai.Tidak lama antaranya
mereka melihat sahabatnya burung Bangau sedang asyik naik perahu. Setelah dekat
mereka berkata : Bolehkah kami ikut bersamamu hai Burung Bangau?. Burung Bangau
menyetujui permintaan mereka , hanya saja mereka harus tahu, bahwa perahunya
mudah terbalik.
Akhirnya mereka naik bertiga.
Belum
jauh berdayung mereka dilihat oleh kera sahabat ayam tadi.Ia mendekat pantai
sambil bertanya: ‘’ Hendak kemana kalian bertiga?’’ Kami akan memetik buah
manngga di seberang. Kera berkata lagi :’’bolehkah dengan saya?’’. Mendengar
itu perahu burung bangau mendekat ke tepi, lalu kera naik dengan gembira dan
senang hati.
Kemudian
sampan kembali didayung menuju ke tengah. Dalam jarak yang kurang lebih
kedalaman satu depan ayam berkokok sambil kentut didepan kera. Mendengar itu
kera menoleh kebelakang sambil tertawa dan bergoyang.
Pada
saat itu akhirnya sampan mereka terbalik langsung tenggelam.Kepiting menyelam
ke dasar laut, ayam dan burung bangau terbang ke darat dan kera terpaksa
menemui ajalnya karena tidak dapat berenang.
KELAPA BUSUK
Dahulu kala ada sebuah
kampung di daerah Wolio yang ditinggali seorang wanita tua yang sudah berambut
putih.Ia tinggal pada sebuah pondok kecil di dalam kebun kelapa seorang diri.
Suaminya telah lama meninggal dunia.Anaknya tiga orang tetapi sudah meninggal
juga semuanya.Kehidupannya hanya mengharapkan harga kelapa yang dijualnya
setiap hari, yang datang membeli kelapa setiap hari silih berganti.
Pada suatu saat, datanglah
seorang anak untuk membeli kelapa. Ia disuruh ayahnya untuk membeli kelapa
.Baju yang dipakainya sudah robek-robek. Setelah tiba, ia bertanya pada orang
tua di pondok tersebut: ‘’ Ibu, tidakkah menjual kelapa busuk?’’karena uang
yang diberikan ayahku hanya satu sen saja. Orang tua tadi tidak menjawab. Ia
tercengang sambil memperhatikan anak tersebut dengan seksama . Melihat hal yang
demikian anak tersebut lalu berkata’’ Mohon
maaf Bu, mungkin saya tidak sopan hingga pertanyaan saya tidak dijawab
oleh Ibu. ‘’Mendengar itu , Ibu tadi lalu kaget sambil, berkata: ‘’Aduh nak ,
sangat sedih hati Ibu melihat engkau ini, kalau boleh akku bertanya dimanakah
engkau tinggal?’’. Anak itu pun lalu menjawab lagi :’’ Aku tinggal bersama ayah
diujung kampung ini ‘’. Orang tua tadi pun lalu bertanya lagi, ibumu
dimana?’’.Ibuku telah lama meninggal dunia. Sesudah itu orang tua itu pun lalu
mengambil dua buah sambil berkata: ‘’ Ambillah kelapa ini jangan dibeli lagi’’.
Melihat hal itu anak tadi lalu berkata lagi:’’ Kalau bisa berilah aku kelapa
busuk saja sebuah’’. Orang tua itu pun berkata pula, Ambillah kelapa itu dan
ambil pula kelapa busuk ini sedapatmu kau membawanya’’janganlah dijual lagi
pada orang lain’’, lalu ia mohon diri untuk pulang.
Setelah tiba di tempat tinggalnya lalu berkata pada
ayahnya.’’Inilah kelapa, tetapi kita tidak beli lagi, kita hanya diberi saja
dengan Cuma-cuma, ayahnya turut bergembira pula lalu berkata lagi pada
anaknya,’’ wa Meose, bagaimana kelapa busuk untuk makanan kepiting
kenarimu.’’Ada juga pak’’.
Setelah itu, wa Meose langsung
mengupas kelapa busuknya, tempurngnya pun dikupas, lalu dengan setengah berlari
ia menuju gua dibelakang tempat tinggal mereka. Setelah tiba ia masuk dalam
gua. Tidak lam kemudian ia pun menyanyikan lagu kebiasaanya sehari-hari dengan
pantun sebagai berikut:
Kepiting kenariku, kepiting
kenariku marilah keluar
Aku datang membawa makananmu
Inilah kelapa santan yang enak
Penawar rasa iadman hatimu
Aku datang membawa makananmu
Inilah kelapa santan yang enak
Penawar rasa iadman hatimu
Baru dua kali ia menyanyi dengan
penuh kasih, terdengarlah bunyi guntur disertai kilat yang menyilaukan mata
seperti pada kebiasaan sehari-hari. Setelah itu kepiting kenarinya sudah berada
dii hadapannya. Wa Meose, lalu duduk dan memberinya makanan dengan kelapa
busuk. Kepiting kenari pun lalu makan dengan sepuas-puasnya sampai ia kenyang.
Setelah itu ia merangkak dan duduk di berkenalan, alangkah banyaknya
pertolongan yang kau berikan padaku. Dan juga alangkah besar kesayanganmu
padaku.Oleh karena itu aku ingatkan padamu, sayangilah semua manusia dan hewan
yang di muka bumi ini, supaya kau juga dapat disayangi oleh semua mereka.
Engkau sekarang belum disekolahkan oleh
orang tuamu karena ketiadaan biaya.
Tetapi kau jangan risau dan bersedih
hati. Tuhan senantiasa bersama orang tawakal.
Tidak lama kemudian kepiting
kenari mengeluarkan sebutir mutiara dari dalam jari-jari kelingkingnya lalu
diserahkan pada Wa Meose temannya.Wa Meose lalu mengambil mutiara itu. Setelah
digenggam tiba-tiba kedengaran pula guntur dan dibarengi dengan kilat
sebagaimana hari-hari yang lain. Selesai itu kelihatan sebuah bungkusan yang
berisi dengan beraneka ragam pakaian kanak-kanak dan orang tua, serta segala
macam perhiasan indah-indah yang sangat mengherankan oleh Wa Meose adalah
pakaian yang ada dibadanya telah berubah menjadi pakaian dan perhiasan yang
bagus-bagus pula.Bekas luka yang ada dibadanya menjadi hilang.Hidungnya yang
pesek menjadi hidung mancung.Ia telah pandai membaca dan menulis serta
sembahyang dan mengaji. Semua ilmu telah dimilikinya.Itulah kecintaan Al Khalik
kepada umatnya yang taqwa.
Setelah itu kepiting kenari pun
berkata lagi: Dengar pula Meose, mulai hari ini kita tidak akan ketemu lagi
disini. Kau jangan lagi datang dalam gua disini, karena tidak ada lagi
saya.Selesailah kutukan dan hukuman Yang Maha Kuasa kepadaku karena aku tidak
mengikuti nasihat orang tuaku.Untunglah kita telah bersahabat sehingga aku
cepat keluar dari kutukan.Aku adalah anak Raja Bawa Angin. Aku akan pulang pada
orang tuaku supaya aku bersekolah seperti anak-anak yang lain.
Setelah itu kepiting kenari pun
menjadi manusia kembali seperti adanya Wa Meose. Esok dan lusa kita akan ketemu
kembali setelah kita menjadi dewasa nanti. Mutiara bagianmu itu apabila ada
yang kau perlukan barulah kau pegang.Setelah selesai kau simpan dalam bungkusan
yang tidak ditahu orang. Dan jangan kau lupakan apa yan saya katakana ini.
Orang tuamu jangan dikerasi ikuti semua
nasehatnya. Guru sekolah dan pengajianmu jangan kau lupakan.
Teman-temanmu jangan kau kasari. Jangan
sekali-kali kau tinggi hati.Jamgan ingkar dengan ajaran agama dan
sekolahmu.Sayangilah binatang dan makhluk lainnya. Jaga kata –katamu jangan
sampai menyinggung persaan orng lain.
Setelah itu merekapun keluar
dari dalam gua.Mereka berpisah satu ke Timur satu ke Barat.Wa Meose menyanyikan
lagu sebagaimana kebiasaannya memanggil kepiting kenari.
Sahabatnya itu pun lalu
menjawab.Ya, aku tidak melupakanmu. Nanti kali lain kita berjumpa lagi.
Tidak lama kemudian tibalah Wa
Meose di pondok orang tuanya.Ayahnya sementara mencabut rumput
dihalaman.Bungkusan pakaian yang dibawahnya lalu diletakkan didalam pondok.
Kemudian Wa Meose membuka mutiaranya dalam bungkusan lalu di dipegangnya
dengan niat meminta rumah besar.
Terjadilah bunyi guntur dan kilat. Setelah itu berdirilah mahligai bersusun
dengan segala isiny dan kelengkapannya.Ayahnya diam penuh dengan keheranan.Wa
Meose segera memberi tahu ayahnya. Ayah sekarang berdoalah tanda syukur kepada
Allah. Secara kebetulan besok bertepatan dengan lima belas hari bulan Sya’ban .
Kita mengadakan persiapan
perjamuan makan untuk semua masyarakat kampung ini. Kita undang semua mereka
datang kerumah baru kita guna bersama-sama memohon doa restu Yang Maha Kuasa
agar senatiasa diberi Ridha oleh-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar