Kamis, 22 Desember 2011

Dongeng-Dongeng buton


BONE MALEI
                Suatu saat  Buton diperintah oleh seorang raja yakni Raja Mulae. Pada zaman itu di Bone Tobungku Kapontori ada huru-hara yang dipimpin oleh La Bolontio.Rakyat yang tinggal di Bone Tobungku sangat takut dengan La Bolontio karena dia hanya memiliki satu mata saja. Ia kejam dan tinggi hati , semua orang merasa tidak tenteram . Harta bendanya dirampas , diambil atau dirusakkan.
                Beberapa saat kemudian huru-hara tersebut sampailah beritanya di Istana dan telah diketahui oleh Raja. Setelah itu raja mengadakan keputusan, siapa-siapa yang dapat membunuh La Bolontio, akan diberi hadiah, dikawinkan dengan putrinya yang bernama Wa Tampaydongi. Namanya di Istana dikenal dengan Boroko Malanga.
                Berita tersebut menyebar di seluruh kerajaan.Para satria yang berani semua menuju Bone Tobungku.Murhum pun ikut mengadu untung.Menurut berita Murhum naik sampan menuju Bone Tobungku.Setelah tiba Murhum naik ke darat. Setelah menginjakkan kaki di pantai, ia berpura-pura pincang berjalan menuju La Bolontio. Menurut ceritera , La Bolontio berjalan pula menuju Murhum . Setelah La Bolontio mendekat , Murhum, memasukkan kakinya kedalam pasir, dan secara tiba-tiba disentakkan kearah mata La Bolontio, sehingga penuh dengan pasir . Murhum itu menghunus kerisnya lalu menikam La Bolontio, tetapi tidak mampan. Melihat itu Murhum merampas keris La Bolontio kemudian ditikamkan pada La Bolontio dengan kerisnya sendiri. Saat itu La Bolontio terbanting lalu meniggal dunia.Melihat itu kawan-kawan Murhum lalu mengejar pasukan La Bolontio untuk berkelahi, sebagian meninggal, sebagian ditawan dan sebagian lagi melarikan diri.Saat itu juga Murhum memenggal leher La Bolontio dan kepalanya dibawa segera pada Raja supaya Raja yakin bahwa La Bolontio yang bermata satu telah dikalahkan.
                Sesudah itu Murhum memotong pula alat fital La Bolontio untuk di persembahkan kepada Raja Mulae sebagai bukti bahwa yang membunuh La Bolontio adalah Murhum.
                Kemudian dari pada itu Murhum telah diakui Raja Mulae dan langsung dikawinkan dengan Boroko Malanga.Akhirnya kepala La Bolontio diserahkan kepada orang Siompu untuk disimpan dalam gua yang berada di atas batu di Lontoi.Saat pertempuran di Bone Tobungku sangat banyak pasukan La Bolontio yang terbunuh, sehingga pasir menjadi berwarna merah karena darah. Itulah sebabnya Bone Tobungku di gelar dengan nama‘’Bone Malei”.










LANDOKE-NDOKE Ke MANU
Pada zaman dahulu, kera dengan ayam bersahabat erat.Suatu waktu kera memanggil sahabatnya untuk berjalan-jalan menyaksikan keindahan alam.
Karena asyiknya mereka lupa bahwa hari sudah sore.Pada saat itu kera telah merasa lapar benar.
Tiba-tiba kera berkata ‘’ Apa itu yang lewat ‘’.Mendengar itu ayam berpaling ke belakang. Pada saat itulah kera langsung menangkap ayam sambil berkata ‘’saya akan makan kamu sekarang ‘’, seraya mencabut bulu ayam dengan  cepatnya.
Saat itu ayam belum bergerak.Ia mengumpulkan tenaga. Setelah cukup tenang perasaannya ia berontak dengan kuatnya. Akhirnya terlepas dari tangan kera. Ayam berlari mencari sahabatnya yang lain. Tak lama kemudian bertemu dengan kepiting.Ayam berkata, sedang mengapakah engkau sahabatku? ‘’ kepiting menjawab :’’ sedang duduk dan beristirahat ‘’ jawabnya , kalau engkau ayam mengapa sampai di sini’’, tanyanya, kemudian ayam datang mendekat, duduk disamping kepiting. Mendengar semua itu, kepiting member i tahu ayam agar dia bersabar saja, jangan risau dengan hal itu.
Keesokanya harinya kepiting dengan ayam pergi berjalan-jalan ditepi pantai.Tidak lama antaranya mereka melihat sahabatnya burung Bangau sedang asyik naik perahu. Setelah dekat mereka berkata : Bolehkah kami ikut bersamamu hai Burung Bangau?. Burung Bangau menyetujui permintaan mereka , hanya saja mereka harus tahu, bahwa perahunya mudah terbalik.
Akhirnya mereka naik bertiga.
            Belum jauh berdayung mereka dilihat oleh kera sahabat ayam tadi.Ia mendekat pantai sambil bertanya: ‘’ Hendak kemana kalian bertiga?’’ Kami akan memetik buah manngga di seberang. Kera berkata lagi :’’bolehkah dengan saya?’’. Mendengar itu perahu burung bangau mendekat ke tepi, lalu kera naik dengan gembira dan senang hati.
            Kemudian sampan kembali didayung menuju ke tengah. Dalam jarak yang kurang lebih kedalaman satu depan ayam berkokok sambil kentut didepan kera. Mendengar itu kera menoleh kebelakang sambil tertawa dan bergoyang.
            Pada saat itu akhirnya sampan mereka terbalik langsung tenggelam.Kepiting menyelam ke dasar laut, ayam dan burung bangau terbang ke darat dan kera terpaksa menemui ajalnya karena tidak dapat berenang.









KELAPA BUSUK
                Dahulu kala ada sebuah kampung di daerah Wolio yang ditinggali seorang wanita tua yang sudah berambut putih.Ia tinggal pada sebuah pondok kecil di dalam kebun kelapa seorang diri. Suaminya telah lama meninggal dunia.Anaknya tiga orang tetapi sudah meninggal juga semuanya.Kehidupannya hanya mengharapkan harga kelapa yang dijualnya setiap hari, yang datang membeli kelapa setiap hari silih berganti.
                Pada suatu saat, datanglah seorang anak untuk membeli kelapa. Ia disuruh ayahnya untuk membeli kelapa .Baju yang dipakainya sudah robek-robek. Setelah tiba, ia bertanya pada orang tua di pondok tersebut: ‘’ Ibu, tidakkah menjual kelapa busuk?’’karena uang yang diberikan ayahku hanya satu sen saja. Orang tua tadi tidak menjawab. Ia tercengang sambil memperhatikan anak tersebut dengan seksama . Melihat hal yang demikian anak tersebut lalu berkata’’ Mohon  maaf Bu, mungkin saya tidak sopan hingga pertanyaan saya tidak dijawab oleh Ibu. ‘’Mendengar itu , Ibu tadi lalu kaget sambil, berkata: ‘’Aduh nak , sangat sedih hati Ibu melihat engkau ini, kalau boleh akku bertanya dimanakah engkau tinggal?’’. Anak itu pun lalu menjawab lagi :’’ Aku tinggal bersama ayah diujung kampung ini ‘’. Orang tua tadi pun lalu bertanya lagi, ibumu dimana?’’.Ibuku telah lama meninggal dunia. Sesudah itu orang tua itu pun lalu mengambil dua buah sambil berkata: ‘’ Ambillah kelapa ini jangan dibeli lagi’’. Melihat hal itu anak tadi lalu berkata lagi:’’ Kalau bisa berilah aku kelapa busuk saja sebuah’’. Orang tua itu pun berkata pula, Ambillah kelapa itu dan ambil pula kelapa busuk ini sedapatmu kau membawanya’’janganlah dijual lagi pada orang lain’’, lalu ia mohon diri untuk pulang.
                Setelah tiba  di tempat tinggalnya lalu berkata pada ayahnya.’’Inilah kelapa, tetapi kita tidak beli lagi, kita hanya diberi saja dengan Cuma-cuma, ayahnya turut bergembira pula lalu berkata lagi pada anaknya,’’ wa Meose, bagaimana kelapa busuk untuk makanan kepiting kenarimu.’’Ada juga pak’’.
                Setelah itu, wa Meose langsung mengupas kelapa busuknya, tempurngnya pun dikupas, lalu dengan setengah berlari ia menuju gua dibelakang tempat tinggal mereka. Setelah tiba ia masuk dalam gua. Tidak lam kemudian ia pun menyanyikan lagu kebiasaanya sehari-hari dengan pantun  sebagai berikut:
Kepiting kenariku, kepiting kenariku marilah keluar
Aku datang membawa makananmu
Inilah kelapa santan yang enak
Penawar rasa iadman hatimu
                Baru dua kali ia menyanyi dengan penuh kasih, terdengarlah bunyi guntur disertai kilat yang menyilaukan mata seperti pada kebiasaan sehari-hari. Setelah itu kepiting kenarinya sudah berada dii hadapannya. Wa Meose, lalu duduk dan memberinya makanan dengan kelapa busuk. Kepiting kenari pun lalu makan dengan sepuas-puasnya sampai ia kenyang. Setelah itu ia merangkak dan duduk di berkenalan, alangkah banyaknya pertolongan yang kau berikan padaku. Dan juga alangkah besar kesayanganmu padaku.Oleh karena itu aku ingatkan padamu, sayangilah semua manusia dan hewan yang di muka bumi ini, supaya kau juga dapat disayangi oleh semua mereka. Engkau sekarang belum  disekolahkan oleh orang tuamu  karena ketiadaan biaya. Tetapi kau jangan  risau dan bersedih hati. Tuhan senantiasa bersama orang tawakal.
                Tidak lama kemudian kepiting kenari mengeluarkan sebutir mutiara dari dalam jari-jari kelingkingnya lalu diserahkan pada Wa Meose temannya.Wa Meose lalu mengambil mutiara itu. Setelah digenggam tiba-tiba kedengaran pula guntur dan dibarengi dengan kilat sebagaimana hari-hari yang lain. Selesai itu kelihatan sebuah bungkusan yang berisi dengan beraneka ragam pakaian kanak-kanak dan orang tua, serta segala macam perhiasan indah-indah yang sangat mengherankan oleh Wa Meose adalah pakaian yang ada dibadanya telah berubah menjadi pakaian dan perhiasan yang bagus-bagus pula.Bekas luka yang ada dibadanya menjadi hilang.Hidungnya yang pesek menjadi hidung mancung.Ia telah pandai membaca dan menulis serta sembahyang dan mengaji. Semua ilmu telah dimilikinya.Itulah kecintaan Al Khalik kepada umatnya yang taqwa.
                Setelah itu kepiting kenari pun berkata lagi: Dengar pula Meose, mulai hari ini kita tidak akan ketemu lagi disini. Kau jangan lagi datang dalam gua disini, karena tidak ada lagi saya.Selesailah kutukan dan hukuman Yang Maha Kuasa kepadaku karena aku tidak mengikuti nasihat orang tuaku.Untunglah kita telah bersahabat sehingga aku cepat keluar dari kutukan.Aku adalah anak Raja Bawa Angin. Aku akan pulang pada orang tuaku supaya aku bersekolah seperti anak-anak yang lain.
                Setelah itu kepiting kenari pun menjadi manusia kembali seperti adanya Wa Meose. Esok dan lusa kita akan ketemu kembali setelah kita menjadi dewasa nanti. Mutiara bagianmu itu apabila ada yang kau perlukan barulah kau pegang.Setelah selesai kau simpan dalam bungkusan yang tidak ditahu orang. Dan jangan kau lupakan apa yan saya katakana ini. Orang tuamu jangan dikerasi ikuti semua  nasehatnya. Guru sekolah dan pengajianmu jangan kau lupakan. Teman-temanmu  jangan kau kasari. Jangan sekali-kali kau tinggi hati.Jamgan ingkar dengan ajaran agama dan sekolahmu.Sayangilah binatang dan makhluk lainnya. Jaga kata –katamu jangan sampai menyinggung persaan orng lain.
                Setelah itu merekapun keluar dari dalam gua.Mereka berpisah satu ke Timur satu ke Barat.Wa Meose menyanyikan lagu sebagaimana kebiasaannya memanggil kepiting kenari.
                Sahabatnya itu pun lalu menjawab.Ya, aku tidak melupakanmu. Nanti kali lain kita berjumpa lagi.
                Tidak lama kemudian tibalah Wa Meose di pondok orang tuanya.Ayahnya sementara mencabut rumput dihalaman.Bungkusan pakaian yang dibawahnya lalu diletakkan didalam pondok. Kemudian Wa Meose membuka mutiaranya dalam bungkusan lalu di dipegangnya dengan  niat meminta rumah besar. Terjadilah bunyi guntur dan kilat. Setelah itu berdirilah mahligai bersusun dengan segala isiny dan kelengkapannya.Ayahnya diam penuh dengan keheranan.Wa Meose segera memberi tahu ayahnya. Ayah sekarang berdoalah tanda syukur kepada Allah. Secara kebetulan besok bertepatan dengan lima belas hari bulan Sya’ban .
                Kita mengadakan persiapan perjamuan makan untuk semua masyarakat kampung ini. Kita undang semua mereka datang kerumah baru kita guna bersama-sama memohon doa restu Yang Maha Kuasa agar senatiasa diberi Ridha oleh-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar